Re-thinking about “Ora et Labora”


"God Almighty knows previously what you'll choose with your free desire" (St. August)

Semboyan Latin “Ora et Labora”, yang bermakna “Berdoa dan Bekerja”, telah menjadi panduan umum yang telah dikenal banyak orang, dan telah saya kenal sendiri sejak saya masih menginjak bangku pendidikan Sekolah Dasar. Maknanya lugas, melakukan suatu perkerjaan (mencapaian tujuan) yang diimbangi oleh “Tindakan” (Action) dan juga menggantungkan pencapaian harapannya kepada Tuhan sebagai penentu Yang Maha Kuasa.

Semboyan ini sebenarnya mempunyai adaptasinya pula dalam Bahasa Indonesia: “Manusia berusaha, Tuhan menentukan”. Sebuah susunan kalimat utuh yang menjadi syarat mutlak keberhasilan suatu tujuan. Saya mengatakannya sebagai suatu susunan kalimat utuh karena tidak seharusnyalah orang hanya memfokuskan diri kepada petikan kalimat kedua: ”Tuhan menentukan” dan mengabaikan hakikat keharusan manusia untuk berusaha (Action).

Hal serupa yang terjadi pula ketika film dokumenter dan buku ”The Secret” dikritisi sebagian pengamat hanya menekankan pada segi ”Believe” (Percaya) yang dapat dimaknai pula sebagai tindakan ”Ora” (Berdoa), dan keharusan suatu usaha (Action) hanya diutarakan secara tersirat dan terkesan bukan sebagai bagian pokok dalam pencapaian tujuan. (Pendapat pribadi saya mengenai ini telah saya utarakan pula dalam tulisan ”Behind ’The Secret’” pada blog ini pula).

Singkatnya, saya tetap mengapresiasi kekuatan doa dan usaha manusia sebagai kunci sukses suatu tujuan tanpa harus mendiskreditkan ”The Secret”. Dan keduanya sudah selayaknya mendapatkan porsi yang seimbang; dimana kita terus memberikan harapan dan berseru kepada Pencipta sebagai penentu hasil akhir, sementara pula kita harus tetap fokus dan berusaha untuk mengupayakannya pula.

Sebuah inspirasi baru tiba-tiba muncul setelah saya membaca petikan buku yang ditulis salah seorang tokoh yang tidak pernah saya kagumi (dan sampai saat ini pula saya katakan ”belum”). Buku tersebut berjudul ”Ganti Hati” karangan Dahlan Iskan, CEO Jawa Pos Group yang membawahi surat kabar nasional ”Jawa Pos” dan jaringan-jaringan media lain dalam grupnya. Buku ini sebenarnya merupakan kumpulan tulisan berserinya saat menjalani transpantasi liver bulan Agustus 2007 dengan judul ”Dahlan Iskan, Pengalaman Pribadi Menjalani Transplantasi Liver”. Tulisan ini dimuat dalam jaringan medianya di bawah Jawa Pos News Network (JPNN) termasuk harian ”Jawa Pos” sendiri secara nonstop 33 hari! Sebuah tindakan kontroversial yang mengundang tanya dan kesan berlebihan (termasuk oleh saya pribadi), di balik kekaguman dan simpati pula yang timbul dari pembaca-pembacanya.

Terlepas dari hal tersebut, sebuah filosofi menarik patut saya apresiasi dan menjadi manfaat baru bagi saya pribadi, saat ia melontarkan pemikirannya tentang kecenderungan manusia untuk meminta apa saja kepada Tuhan sehingga terkesan malas berusaha. Padahal, Tuhan telah mengaruniakan otak (saya pribadi lebih suka menyebutnya sebagai ”akal budi”) kepada manusia untuk mampu mengatasi masalah-masalahnya sediri.

Sungguh sebuah filosofi berharga yang menempatkan Tuhan dan manusia pada posisi dan ”kewajiban” semestinya, dan sejalan pula dengan pendapat filsuf dan teolog Katholik legendaris, St. Agustinus, yang menyatakan kehendak manusia secara bebas dalam suatu tindakan yang juga telah diketahui Penciptanya terlebih dahulu.

Lantas, apakah arti ”doa” ataupun ”meminta” (Ask) menjadi kecil maknanya dengan pemikiran tersebut? Justru tidak, namun sebuah definisi baru tentang ”doa” perlu ditetapkan dan dipahami lagi lebih lanjut. ”Doa” yang seharusnya bukanlah doa yang semata-mata bermakna ”permintaan” semata, melainkan sebuah ibadah utuh yang disebut pula sebagai doa itu sendiri dalam agama Kristen, ataupun dimaknai ”zikir” dalam agama Islam.

Karena menurut Dahlan, ”berdoa” dalam arti meminta pada dasarnya serupa pula dengan maknanya sebagai ”memerintah Tuhan”. (Dikatakan Dahlan sebagai kajian Ilmu Mantiq (logika) sewaktu dirinya belajar di Madrasah Aliyah Pesantren Sabilil Muttaqien, Takeran, Magetan, yang juga merupakan pesantren keluarganya sendiri). Simak pendapatnya dalam sebuah tulisannya pada bab 11: ”Kalau tidak percaya, perhatikan kata kerja di setiap doa. Pasti menggunakan bentuk kata perintah. Dalam bahasa Arab disebut ”isim amar” atau bentuk kata perintah. ”Masukkanlah ke surga”, ”berikanlah panjang umur”, ”jauhkan dari neraka”, dan seterusnya.”

Entah disadari Dahlan ataupun tidak, gagasan ini sebenarnya mendukung pula kaidah ”The Secret” bahwa manusia mampu mendapatkan apa yang diinginkannya dengan memikirkannya (menggunakan otak / akal budi), sehingga dapat menengahi perdebatan apakah gagasan ”The Secret” tersebut mengecilkan makna Tuhan Yang Maha Kuasa yang menentukan hasil akhir tujuan.

Doa dengan makna ”zikir” (mengingat Tuhan) itulah yang seharusnya lebih diutamakan manusia. Selagi berusaha untuk mencapai tujuannya dengan tindakan (Action) dan bukan pasrah apa adanya; selayaknyalah pula manusia tetap mengingat Tuhan, memuji kebesarannya, dan lebih penting lagi bersyukur kepada Penciptanya dalam arti seluas-luasnya.

Bersyukur dalam arti seluas-luasnya inilah yang menurut pendapat saya mutlak terdiri dari tiga hal: Pertama adalah bersyukur dan memaknai dengan bahagia atas apa yang dialaminya saat ini, bukannya berkeluh kesah dan merasa tidak puas atas penderitaan ataupun apa yang belum dicapainya. Kedua adalah bersyukur atas akal budi sebagai karunia terbesar kepada manusia dalam pencapaian tujuannya. Akal budi yang bahkan telah dibentuk dan dikembangkan sebelum manusia menciptakan tujuan-tujuannya. Dan ketiga adalah bersyukur atas kehendak Yang Maha Kuasa, yang Maha Berkehendak dan telah mengetahui hasil akhir dari ”kehendak bebas” yang dikaruniakan kepada manusia-Nya berupa akal budi tersebut.

Memang demikianlah pembaca, apapun kepercayaan yang mendasari Anda, saya rasa definisi "doa" yang demikian akan menjadikan diri Anda lebih mudah mendekatkan diri kepada-Nya dan mencapai tujuan-tujuan Anda yang selaras dengan kehendak-Nya pula.

Last but not least, honestly I must say a great thanks to Mr. Yu Se Kan (Dahlan Iskan) about this philosophy that inspires me and a lot of people to “re-thinking about ‘Ora et Labora’”.

0 comments: