Don’t Create Too Much Reasons to Fail


"The optimist sees opportunity in every danger; the pessimist sees danger in every opportunity." (Winston Churchill)

Ada sebuah petuah berharga yang saya dapatkan saat pertama kalinya saya memulai karir dalam pekerjaan saya saat ini. Satu dari kumpulan petuah berjudul “10 Prinsip Hidup Orang Modern” yang tertulis dalam selembar kertas yang tertempel pada dinding kantor saya waktu itu, dan nampaknya diadaptasi dari filosofi Buddha. Satu petuah yang hingga saat ini menjadi salah satu pedoman saya dalam bekerja dan menjalani hidup yang penuh anugerah ini berbunyi: ”Jangan terlalu banyak alasan”.

Tampaknya sebuah petuah yang sederhana, dan lebih mirip suatu ungkapan kejengkelan seorang pemimpin (bos) kepada anak buahnya saat ia tidak puas dengan kinerja anak buah yang bersangkutan. Namun ungkapan yang sederhana inilah yang nyata-nyata dapat dengan mudah ter-install dalam benak pikir saya hingga saat ini.

Saat saya merasa akan gagal dalam pencapaian sesuatu, dan mungkin juga beberapa manusia pada umumnya, secara naluriah kita seringkali membuat alasan-alasan yang sering kita kondisikan untuk ”selayaknya dipahami oleh orang lain” tanpa sebelumnya merefleksi terlebih dahulu terhadap kualitas kinerja kita sendiri.

Kemungkinan-kemungkinan yang menjadi faktor kegagalan ini dapat dengan mudah kita kreasikan sendiri. Entah faktor usia, gender, latar belakang pendidikan, fasilitas, dan masih banyak lagi yang bisa saya sebutkan ”dengan semestinya” pada halaman ini, yang sebenarnya menjadi semacam afirmasi negatif ke dalam alam bawah sadar untuk mendemotivasi usaha kita.

Pernahkah Anda dengar cerita tentang kedua anak kembar dalam suatu keluarga tak mampu dan tidak bahagia? Nasib yang sama dialami oleh kedua anak tersebut ketika kecil, namun bertolak belakang dengan nasib keduanya saat mereka dewasa.

Anak pertama mengalami kesuksesan dalam usia dewasanya, namun anak kedua tidak mampu membawa taraf hidupnya menjadi lebih baik. Saat anak pertama ditanya apa yang menyebabkan dirinya sukses, ia menjawab, ”Saya menjadi seperti ini karena masa kecil saya. Saya bukan berasal dari keluarga mampu dan bahagia, sehingga saya berkeinginan keras untuk merubah nasib saya melalui kerja keras.”

Sebaliknya, saat anak kedua ditanya apa yang menyebabkan ia gagal dalam hidupnya, ia menjawab, ”Saya menjadi seperti ini karena masa kecil saya. Saya bukan berasal dari keluarga mampu dan bahagia, sehingga kehidupan tersebut menghancurkan mental saya, membuat saya tidak percaya diri, saya juga tidak mampu menuntut ilmu untuk memperdalam pengetahuan saya, dan parahnya pula saya tidak mempunyai modal untuk memulai sebuah usaha.”

Sebuah cerita lagi berasal dari negeri China saat seorang pembuat sandal pergi merantau ke negara barbar di mana ia mencoba menjajakan produksi alas kakinya. Belum beberapa lamanya ia merantau, ia kembali ke desanya dengan membawa seluruh barang dagangannya dengan putus asa. Ia berkata pada tetangga-tetangganya, ”Sial sekali diriku ini. Aku menjual alas kaki ke tempat yang salah di mana penduduknya sudah terbiasa untuk bertelanjang kaki. Akibatnya, sia-sialah sajalah perjalananku ke negeri barbar tersebut.”

Ada satu orang pembuat sandal lain dari desa itu yang kebetulan tidak mendengar cerita tersebut, dan ia mencoba untuk menjual alas kaki buatannya ke negeri barbar yang sama pula. Setelah beberapa lama kemudian, ia kembali ke desanya dengan membawa banyak perhiasan, ”Alangkah beruntungnya aku! Alas kakiku dapat dijual dengan mudah kepada mereka-mereka yang sebelumnya tidak pernah menggunakannya. Barang buatanku laku keras dan habis terjual.”

Sebenarnya banyak sekali cerita-cerita sejenis yang menunjukkan bahwa suatu kondisi yang sama dapat dimaknai berbeda oleh orang lain. Sama halnya seperti kita memaknai gelas yang setengah isi atau setengah kosong. Nampaknya ini bukan pembahasan baru, Pembaca, namun alangkah baiknya pula kita selalu ingat untuk merefleksikan kembali seberapa seringkah sebenarnya kita membuat alasan-alasan yang bisa dipersiapkan untuk ”membenarkan” kegagalan dan keputusasaan kita?

Terakhir, perkenankanlah saya menyadur sebagian isi dari buku ”The Science of Success” karangan James Arthur Ray (salah seorang guru ”The Secret”) yang sebenarnya telah menjelaskan tentang segala sesuatunya yang berkaitan dengan judul di atas dan dapat dipetik manfaatnya:


TIDAK ADA LAGI ALASAN, TIDAK ADA LAGI CERITA

Beberapa orang telah meyakinkan diri mereka sendiri bahwa hasil tidaklah perlu. Itu kedengarannya aneh, bukankah demikian? Kita semua mengetahui bahwa agar berhasil, hasil-hasil mutlak diperlukan.

Tetapi pikirkan tentang hal itu. Berapa banyak orang yang Anda kenal yang memiliki cerita bagus tentang mengapa mereka tidak memperoleh hasil. Sering kali cerita-cerita itu dimulai sejak sangat lama sekali:
• ”Saya tumbuh dewasa di lingkungan yang salah.”
• ”Saya tidak memperoleh kesempatan yang orang lain dapatkan.”
• ”Keluarga saya tidak seberuntung keluarga lain.”
• ”Saya tidak bersekolah yang tepat atau tidak memiliki gelar yang tepat.”

Kadang-kadang orang-orang ini nampaknya telah membodohi diri mereka sendiri dengan mempercayai bahwa tidak memperoleh hasil-hasil itu dapat diterima, selama mereka memiliki cerita yang baik untuk pembenaran kurangnya keberhasilan mereka. Persamaan yang tampaknya sering digunakan oleh orang-orang seperti ini adalah ini:
TIDAK ADA HASIL + CERITA = HASIL.
Ini secara mutlak tidak benar, dan ini adalah sikap yang sangat melemahkan! Beberapa cerita tampak seperti alasan yang sangat baik, tetapi cerita itu menjamin kegagalan. Selama orang-orang membuat alasan untuk kurangnya keberhasilan mereka, mereka kehilangan kekuatan untuk menciptakan keberhasilan.

Banyak cerita yang kita kisahkan secara mutlak benar. Faktanya akurat. Dan juga benar bahwa orang-orang dan keadaan di luar diri mereka mempengaruhi kita. Tetapi faktor-faktor tersebut tidak menentukan keberhasilan mereka. Faktor-faktor itu tidak memiliki kekuatan untuk menjauhkan kita dari nasib baik kita, kecuali kalau kita membiarkannya. Abraham Lincoln, Martin Luther King, dan Mahatma Gandhi tidak membiarkan masa lalu mereka yang sangat sederhana menjauhkan mereka dari impian mereka. Selama kita terus berfokus pada cerita-cerita kita, dan bukan pada hasil-hasil kita, kita menjauhkan diri kita sendiri dari mengubah atau mencapai sesuatu.

Perhatikan prinsip ini dalam hal hidup Anda sendiri. Pikirkan tentang satu bidang dalam hidup Anda di mana Anda sekarang berhasil. Itu mungkin dalam hubungan, keuangan, atau permainan tenis Anda. Anda mungkin memiliki fisik yang sangat bagus atau menjadi orangtua yang hebat. Sekarang, untuk memperhatikan lebih dekat pada sifat cerita dan betapa tidak relevannya cerita itu, buatlah cerita tentang mengapa Anda tidak berhasil di bidang itu, bidang dimana Anda jelas-jelas berhasil. Alasan selalu tersedia untuk mereka yang memilih beralasan ketimbang berhasil.

Para pemenang tidak mengisahkan cerita. Para pemenang menyingkirkan cerita-cerita mereka untuk memperoleh hasil. Bahkan ketika kemalangan menimpa, mereka tidak membiarkan diri mereka tenggelam dalam alasan.

Putuskan sekarang juga untuk berhenti menggunakan cerita-cerita bagus Anda sebagai alasan. Dengan berfokus pada cerita-cerita Anda, Anda hanya menciptakan cerita yang sama. Memikirkan tentang kekurangan dan batasan hanya menciptakan lebih banyak kekurangan dan batasan. Berfokuslah hanya pada visi Anda dan potensi Anda yang tidak terbatas. Satu-satunya cara untuk membangun hasil-hasil adalah berkonsentrasi secara konsisten pada apa yang Anda pilih, dengan mengesampingkan semua hal lain.

0 comments: