"I think, therefore I am.” (Rene Descartes)
Kutipan di atas lebih dikenal dalam bahasa Latin sebagai: "Cogito Ergo Sum" yang bermakna: “Aku berpikir, maka aku ada”. Kalimat yang menjadi dasar filosofi Barat ini dicetuskan oleh Rene Descartes (1596-1650), seorang filsuf Perancis yang mendapat gelar sebagai “Bapak Filosofi Modern”. Pernyataan ini menegaskan bahwa ia sebagai makhluk individu menyadari keberadaan dirinya karena ia berpikir. Memang demikianlah, proses berpikir menegaskan keakalbudian manusia yang menyatakan keberadaannya terhadap individu manusia yang lain, sekaligus membedakan harkat hidupnya dibandingkan makhluk hidup yang lain, yaitu hewan dan tumbuhan.
Sudah menjadi tuntutan hidup dan rahmat bagi umat manusia untuk berpikir, yang sekaligus dapat didefinisikan pula bahwa kegiatan berpikir ini menjadi kewajiban dan hak umat manusia dalam menjalani hidupnya. Dari kegiatan berpikir inilah, proses kehidupan manusia terus berkembang dari waktu ke waktu. Dalam tahap manusia primitif yang saat itu hanya mengenal kebutuhan dasar untuk bertahan hidup (survive) dan berkembang biak (sex).
Demi mempertahankan hidupnya (survive), sebagai individu manusia dianugerahi rahmat untuk berpikir. Hal ini menjadi hak yang seterusnya berkembang dalam kegiatan untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik, lebih unggul (dominan) daripada individu lain, dan mencari makna kehadirannya dalam kehidupan ini lewat proses aktualisasi dirinya. Dalam kegiatan berpikir tersebut dihasilkan ilmu pengetahuan dan membentuk pola pikir manusia yang lebih baik berupa kecerdasan akal budi. Kegiatan berpikir manusia inilah yang menegaskan dirinya sebagai makhluk individu yang mempunyai keberadaan dan perlu berarti di dunia ini.
Di sisi lain, dalam kegiatan perkembangbiakan manusia (sex) yang menghasilkan manusia baru, pertumbuhan fisik manusia baru tersebut dari masa ke masa dapat berjalan tanpa keterlibatan manusia lain, namun tidak demikian dengan pertumbuhan mental dan kecerdasannya. Proses berpikir manusia dan pertumbuhan kecerdasannya sangat bergantung kepada orang lain, sebagai esensi dari keberadaannya sebagai makhluk sosial. Selanjutnya, manusia perlu mengembangkan kegiatan berpikirnya dan meneruskan proses pewarisan ilmu pengetahuan tersebut kepada manusia lain, setidak-tidaknya kepada keturunannya (sebagai akibat dari kebutuhan dasarnya untuk berkembang biak), sehingga keturunannya tersebut dapat dijamin keberlangsungan hidupnya (dinafkahi) dan menjalani hidup ini dengan lebih baik (dididik). Inilah hakikat kewajiban manusia untuk berpikir dan mengembangkan pengetahuan karena statusnya sebagai makhluk sosial.
Dalam proses berpikir sebagai tuntutan hidup manusia, tak jarang pula didapat suatu berbenturan ide antara manusia yang satu dengan manusia lainnya dan mengakibatkan perselisihan. Sebagai contoh mendasar saya ambil dari perbedaan pola pikir yang berhubungan dengan cara pandang manusia terhadap causa prima sebagai akibat pertama yang mengakibatkan segala sesuatu (termasuk manusia itu sendiri): benturan kaum atheis dengan kaum religius, benturan kaum religius satu dengan kaum religius yang lain, bahkan antara kaum religius itu sendiri, yang tak jarang dijumpai di berbagai kurun waktu. Padahal apabila kita sama-sama menyadari kewajiban manusia untuk berpikir demi fungsi sosialnya, perselisihan tersebut dapat dihindarkan. Karena manusia berpikir demi sesamanya, sudah seharusnyalah kita menghargai usaha berpikirnya meskipun itu tidak bersesuaian dengan pola pikir kita. Bagaimanapun juga, selayaknyalah kita menghargai manusia yang berpikir, meskipun pikiran tersebut bertentangan dengan pemikiran kita sendiri, karena manusia tersebut berusaha berkontribusi bagi kita. Daripada manusia yang lain yang tidak berpikir, yang berarti mereka tidak mempunyai kepedulian terhadap hidup manusia yang lain.
Dalam cara pandang pemikiran manusia tentang ilmu pengetahuan dan causa prima tersebut saya temukan sebuah filosofi tentang ilmu pengetahuan, kecerdasan (kebodohan), dan hakikatnya dalam kehidupan manusia yang sungguh-sungguh menarik dan patut mendapat apresiasi lebih dalam buku “Laskar Pelangi” karangan Andrea Hirata pada kalimat-kalimat awal Bab 11 – “Langit Ketujuh” yang petikannya sebagai berikut:
“Kebodohan berbentuk seperti asap, uap air, dan kabut. Dan ia beracun. Ia berasal dari sebuah tempat yang namanya tak pernah dikenal manusia. Jika ingin menemui kebodohan maka berangkatlah dari tempat di mana saja di planet biru ini dengan menggunakan tabung roket atau semacamnya, meluncur ke atas secara vertikal, jangan pernah sekalipun berhenti.
Gapailah gumpalan awan dalam lapisan troposfer, lalu naiklah terus menuju stratosfer, menembus lapisan ozon, ionosfer, dan bulan-bulan di planet yang asing. Meluncurlah terus sampai ketinggian di mana gravitasi bumi sudah tak peduli. Arungi samudra bintang gemintang dalam suhu dingin yang mampu meledakkan benda padat. Lintasi hujan meteor sampai tiba di eksosfer – lapisan paling luar atmosfer dengan bentangan selebar 1.200 kilometer, dan teruskan melaju menaklukkan langit ketujuh.
Kita hanya dapat menyebutnya langit ketujuh sebagai gambaran imaginer tempat tertinggi dari yang paling tinggi. Di tempat asing itu, tempat yang tak’kan pernah memiliki nama, di atas langit ke tujuh, disitulah kebodohan bersemayam. Rupanya seperti kabut tipis, seperti asap cangklong, melayang-layang pelan, memabukkan. Maka apabla kita tanyakan sesuatu kepada orang-orang bodoh, mereka akan menjawab dengan meracau, menyembunyikan ketidaktahuannya dalam omongan cepat, mencari beragam alasan, atau membelokkan arah pertanyaan. Sebagian yang lain diam terpaku, mulutnya ternganga, ia diselubungi kabut dengan tatapan mata yang kosong dan jauh. Kedua jenis reaksi ini adalah akibat keracunan asap tebal kebodohan yang mengepul di kepala mereka.
Kita tak perlu menempuh ekspedisi gila-gilaan itu. Karena seluruh lapisan langit dan gugusan planet itu sesungguhnya terkonstelasi di dalam kepala kita sendiri. Apa yang ada pada pikiran kita, dalam gumpalan otak seukuran genggam, dapat menjangkau ruang seluas jagat raya. Para pemimpi seperti Nicolaus Copernicus, Battista Della Porta, dan Lippershey malah menciptakan jagat rayanya sendiri, di dalam imajinasinya, dengan system tata suryanya sendiri, dan Lucretius, juga seorang pemimpi, menuliskan ilmu dalam puisi-puisi.
Tempat di atas langit ketujuh, tempat kebodohan bersemayam, adalah metafor dari suatu tempat di mana manusia tak bisa mempertanyakan zat-zat Allah. Setiap usaha mempertanyakannya hanya akan berujung dengan kesimpulan yang mempertontonkan kemahatololan sang penanya sendiri. Maka semua jangkauan akal telah berakhir di langit ketujuh tadi. Di tempat asing tersebut, barangkali Arasy, di sana kembali metafor keagungan Tuhan bertakhta. Di bawah takhta-Nya tergelar Lauhul Mahfuzh, muara dari segala cabang anak-anak sungai ilmu dan kebijakan, kitab yang telah mencatat setiap lembar daun yang akan jatuh…”
Sebuah deskripsi yang luar biasa tentang pengungkapan hakikat pencarian ilmu pengetahuan bagi kecerdasan manusia. Karena sebenarnya ilmu pengetahuan terus berkembang seiring dengan hidup manusia, dan bermuara pada Pencipta manusia itu sendiri. Tidak pernah ada ilmuwan yang berpredikat paling pintar dan paling berilmu, dan dengan menyadari hal yang demikian ini menjadikan manusia untuk menyadari “kebodohannya” sehingga manusia terus berusaha untuk mengembangkan pengetahuannya supaya selaras dengan kehendak Penciptanya sebagai citra dan makhluk ciptaan-Nya yang paling sempurna.
Karena tidak ada seorang pun yang dapat menyibak tirai keseluruhan ilmu pengetahuan inilah selayaknya pula manusia menyadari keberadaan causa prima yang berkuasa atas ilmu pengetahuan. Sehingga ilmu pengetahuan yang semakin berkembang dari masa ke masa ini semestinya tidak menjadikan manusia merasa dirinya mempunyai supremasi mutlak atas segala hal dan meniadakan causa prima.
Knowledge: The Essential of Human Life
Posted by Willy Wong at 10:40 PM 0 comments
Fengshui and/or (Another) Myths’ Affects to Human Belief
“There are no limitation to the mind except those we acknowledge.” (Napoleon Hill)
Menjadi sedikit kesulitan bagi saya kali ini untuk dalam rangka pencarian rangkaian kata yang tepat untuk pemilihan judul di atas, Pembaca. Saya ingin mengulas masalah kepercayaan terhadap Fengshui dan mitos-mitos (lainnya) dalam konteks mempertimbangkan pengaruh-pengaruh yang bisa ditimbulkannya. Namun tidak mudah bagi saya untuk mengambil keputusan awal apakah sebenarnya Fengshui dapat dikategorikan sebagai mitos-mitos biasa yang menjadi “warisan” kepercayaan masa lampau ataukah sebenarnya merupakan sebuah landasan teori tentang keseimbangan alam semesta?
Dewasa ini Fengshui telah menjadi salah satu disiplin ilmu tersendiri, sehingga saya tidak dapat serta-merta mengasosiasikannya sebagai bagian dari mitos-mitos sederhana yang banyak terdapat dalam masyarakat tertentu. Namun bagaimanapun juga, pemahaman tentang Fengshui terkadang masih juga melibatkan alasan-alasan yang nampaknya tidak berkait langsung dengan logika dan realitas, yang tentunya tidak salah pula apabila sebagian masyarakat modern menganggapnya sebagai mitos biasa yang tidak perlu dipertimbangkan.
Saya sedikit terkejut saat seorang pakar Fengshui bernama Marie Diamond menjadi salah satu guru Hukum Tarik-menarik (Law of Attraction) seperti yang dimuat dalam “The Secret”. Nampaknya, pemahaman Fengshui dan Hukum Tarik-menarik tidak dapat dikaitkan begitu saja, bahkan bisa dibilang pula saling bertentangan. Hukum Tarik-menarik meyakini bahwa kita dapat mendapatkan segala sesuatu dengan memikirkannya terlebih dahulu, sementara ilmu Fengshui malahan banyak memberikan begitu banyak pantangan dan larangan yang harus dihindari dalam pengaturan tata ruang dan hal-hal lain tanpa sudut pandang realitas yang apabila dilanggar akan menjadi alasan bagi kita dalam terhambatnya suatu keberhasilan tujuan.
Meskipun beberapa pakar Fengshui telah mengulas berbagai logika sebagai argumentasi bagi orang-orang yang mempertanyakan realitas Fengshui, namun tetap saja tidak memberikan kejelasan yang pasti dapat ditarik kesimpulan dengan akal sehat, setidaknya bagi saya sendiri. Semisal, pantangan adanya kamar kecil / WC dalam rumah bertingkat tepat berada di atas kamar tidur lantai dasar, karena dapat menimbulkan chi (energi/aura) negatif bagi penghuni kamar tidur. Alasan rasional yang diberikan oleh beberapa pakar Fengshui yang menyatakan bahwa kondisi tersebut menimbulkan ketidaknyamanan dalam estetika dan kesehatan pun tampaknya masih belum bisa saya terima begitu saja. Bagaimanapun juga, apabila diberikan pengaturan yang nyaman dan higienis pada kondisi tata ruang di atas, harusnya alasan tersebut bisa diabaikan, bukan?
Namun setelah melalui berbagai macam pertimbangan, saya menemukan sebuah pemikiran yang menjadi landasan umum bagi alasan-alasan yang mendasari teori Fengshui dan kaitannya dengan Hukum Tarik-menarik. Seperti yang telah dibicarakan dalam pembahasan saya terdahulu (dengan judul “Synergetic Approach for Subconscious Mind”), Hukum Tarik-menarik mengikuti getaran yang ditimbulkan oleh pikiran bawah sadar kita. Sehingga meskipun nampaknya pikiran sadar (conscious mind) kita tidak merasakan getaran (atau “chi” dalam istilah Fengshui) bernuansa negatif yang ditimbulkan akibat ketidaksesuaian tata ruang, sangat dimungkinkan apabila ternyata pikiran bawah sadar (subconscious mind) kita tidak berperilaku sama. Dengan kata lain, pikiran bawah sadar yang bekerja lebih sensitif daripada pikiran sadar bisa jadi merasakan ketidaknyamanan akibat ketidaksesuaian tata ruang tersebut, dan menimbulkan getaran negatif yang memberikan pengaruh buruk terhadap kehidupan kita.
Berbagai macam aturan-aturan dalam Fengshui nampaknya memang bertujuan untuk menciptakan keseimbangan harmoni, yang tentu saja dirasakan lebih peka oleh pikiran bawah sadar kita. Sehingga bisa dinyatakan meskipun seseorang tidak mempercayai Fengshui dan tidak mengaplikasikannya dalam tata ruang bisa jadi tetap menerima getaran negatif yang timbul dari pikiran bawah sadar akibat ketidaksesuaian yang terjadi.
Dengan pemahaman ini, pertanyaan apakah sebenarnya ilmu Fengshui bisa dikaitkan dengan Hukum Tarik-menarik bisa terjawab. Setelah melalui pertimbangan lebih lanjut sebagaimana saya ulas di atas, in my humble opinion, I must say: “It really could be correlated”. Namun dengan catatan, bahwa sebenarnya ini tidak mutlak.
Saya rasa tidaklah perlu bagi seseorang untuk mempunyai rasa ketakutan dan paranoid yang berlebihan terhadap penerapan Fengshui. Tidak perlu pula tindakan ekstrem secara serta-merta untuk merombak tata ruangnya saat ditemukan adanya ketidaksesuaian dengan ilmu Fengshui. Apa yang mendasari pernyataan saya ini?
Menurut hemat saya, apabila ilmu Fengshui mempertimbangkan getaran yang ditimbulkan oleh pemikiran bawah sadar, dengan sendirinya seyogianya kita tinggal bekerjasama dengan pikiran bawah sadar saat sesuatu hal yang sebelumnya kita sebut sebagai “ketidaksesuaian” tersebut ditemukan. Sesuatu yang sebelumnya diterima oleh pikiran bawah sadar sebagai “ketidaksesuaian” bisa kita komunikasikan secara intensif untuk diterima sebagai “kesesuaian”. Maka chi buruk yang tadinya menjadi getaran negatif bagi diri kita, dapat kita ubah sendiri menjadi sebuah getaran yang positif dengan meresapi dalam-dalam adanya “kesesuaian” ke pikiran bawah sadar kita.
Hal yang tidak jauh berbeda terjadi pula pada mitos-mitos tertentu yang ada di sekitar kita. Sebagaimana contoh apakah sebenarnya ada yang disebut sebagai angka sial (sebagian orang menyebut angka “4” atau “13”), dan apakah benar pula memang bisa terjadi melindas seekor kucing dalam perjalanan akan menyebab kan kesialan? Secara realistis memang kita harus menjawabnya bulat-bulat dengan kata “Tidak”. Namun Hukum Tarik-menarik sebenarnya memberikan jawaban yang sedikit berbeda.
Dalam Hukum Tarik-menarik, kenyataan akan timbul akibat dari pemikiran yang menimbulkan getaran. Apabila dikaitkan dengan pemikiran bawah sadar, bisa jadi sebuah mitos yang berlaku telah diterima oleh pikiran bawah sadar melalui sebuah proses yang telah tertanam sejak lama. Sehingga segala sesuatu bisa terjadi sesuai mitos yang ada karena sebenarnya pikiran bawah sadar kita sendiri yang “menariknya” melalui getaran negatif.
Maka sangat dimungkinkan sesuatu mitos yang berkembang bisa menimbulkan akibat yang bersesuaian, bahkan kepada seseorang yang sebenarnya dalam pikiran sadarnya nyata-nyata tidak mempercayai mitos tersebut. Ini dapat terjadi karena sangat terbuka kemungkinan pikiran bawah sadar seseorang tersebut telah menerima secara simultan informasi mengenai mitos yang berlaku dalam masyarakatnya (bahkan pula semenjak seseorang tersebut lahir) dan mempengaruhi kepercayaan bawah sadarnya (Belief).
Ini menjadi suatu bahan pemikiran bagi kita bahwa suatu perkembangan suatu mitos dalam masyarakat dapat memberikan efek yang luar biasa bagi kehidupan manusia. Carl Gustav Jung (1875-1961), ahli psikologi yang mencetuskan teori “psikologi analitis” bahkan menaruh minat yang besar terhadap penelitian mitologi-mitologi dari belahan dunia Afrika hingga bagian selatan Amerika Serikat yang dianggapnya berkorelasi dengan pemikiran bawah sadar.
Saat mitos tersebut telah diserap pikiran bawah sadar manusia melalui proses yang terus-menerus bahkan semenjak manusia tersebut lahir akan ditengarai membawa getaran-getaran yang sebenarnya “menarik” hal-hal yang besesuaian dengan mitos. Hal ini tampaknya menjadi jawaban pula mengapa suatu mitos yang melekat dalam suatu daerah tertentu bisa menimbulkan efek yang bersesuaian dengan mitos bagi para penduduk di daerah tersebut, namun kejadian yang sama tidak menimbulkan akibat apa-apa di daerah dimana mitos tersebut tidak dikenal.
Seperti halnya masyarakat Italia yang lebih mempercayai angka “17” sebagai angka sial, dan bukannya angka “4” pada masyarakat China atau angka “13” pada masyarakat Eropa lainnya dan Amerika. Dapat dipahami pula mengapa orang China menganggap angka “4” sebagai angka sial karena berbunyi sama seperti kata “mati” (sama-sama diucapkan sebagai “shi”) dalam bahasa China, sehingga pikiran bawah sadar serta-merta menerimanya sebagai suatu getaran yang buruk. Sangat terbuka sekali kemungkinan masyarakat China benar-benar menerima akibat dari mitos angka “4” tersebut, namun tidak dirasakan sama sekali oleh masyarakat Italia, dan sebaliknya.
Bagaimanakah cara mengatasi mitos yang sudah berkembang ini? Tidak lain dan tidak bukan, tentu saja dengan bekerjasama dengan pikiran bawah sadar pula secara intensif untuk memaknai suatu mitos sebagai hal yang sesungguhnya benar-benar tidak relevan. Sebagai contoh pertimbangan, seseorang yang mempunyai pemahaman religius yang amat kuat sangat jarang sekali mendapat kendala yang berkaitan dengan mitos dan ketidaksesuaian Fengshui. Hal ini dimungkinkan karena ia mempunyai kepercayaan kuat (Belief) tentang religinya hingga ke pikiran bawah sadar sehingga tidak memberikan peluang terhadap pemahaman mitos dan ketidaksesuaian Fengshui di dalamnya.
Inilah yang terjadi dalam dunia ini menurut pemikiran saya, Pembaca, bahwa Fengshui dan mitos-mitos yang berkembang dalam masyarakat memang ternyata sangat dimungkinkan untuk dapat memberikan pengaruh kepada kehidupan kita. Namun dengan terus mengkomunikasikan Belief yang lebih kuat kepada pikiran bawah sadar bahwa segalanya baik adanya, niscaya kita akan terhindar dari akibat yang ditimbulkan oleh mitos-mitos tersebut tanpa perlu mempercayainya dan dapat memaknai segala bentuk yang keseluruhannya dipandang sebagai “kesesuaian” yang berlaku di dunia ini.
Posted by Willy Wong at 1:22 AM 0 comments
Synergetic Approach for Subconscious Mind
“We all have ability. The difference is how to use it.” (Stevie Wonder)
Pembaca, jangan menyalahkan saya karena lagi-lagi saya "terpaksa" harus membahas kembali masalah ”Law of Attraction” dalam kaitannya pula dengan film dokumenter dan buku ”The Secret” lewat tulisan saya kali ini. Masalahnya, dalam satu tahun terakhir ini, topik ini selalu saja berhasil meng-attract (menarik) minat orang-orang yang haus akan motivasi dan proses pencarian makna serta tujuan dalam menjalani kehidupan yang sangat berharga ini.
Akibatnya, hal-hal baru yang berkaitan dengan topik ini selalu saja saya temukan pula, sehingga saya merasa perlu untuk menuangkan ide-ide menarik yang saya anggap memiliki keterkaitan dengan “Law of Attraction” tersebut dan mendukung pengungkapan “The Secret” secara lebih mendalam.
Dalam tulisan saya sebelum ini, yang berjudul “Behind ‘The Secret’”, terdapat sedikit pembahasan mengenai ketidaksesuaian ide dalam menjalankan langkah-langkah pemanfaatan “Law of Attraction” antara Michael J. Losier dalam bukunya yang berjudul sama dengan “The Secret”.
Menurut Michael J. Losier, ”Law of Attraction” akan selalu merespon gerakan yang didasari oleh perasaan subjek pelaku, bukan oleh kata-kata yang diucapkan. Maka subjek pelaku perlu menyadari pula getaran pikiran yang ditimbulkan dari kata-katanya, apakah merupakan getaran yang menimbulkan nuansa positif bagi pikiran, ataukah getaran yang sebaliknya menimbulkan nuansa negatif.
Oleh karenanya, meskipun teknik afirmasi (mengucapkan kata-kata positif untuk membangun diri) tetap penting pula dan merupakan bagian dari teori NLP, sedianya patut diperhatikan pula bahwa sebuah penegasan / kata-kata (afirmasi) positif pun mampu memberikan getaran yang negatif kepada subjek pelaku. Sebagai solusinya, Michael J. Losier menganjurkan untuk menambahkan kata-kata: ”Saya sedang dalam proses...”
Penegasan Michael J. Losier tersebut seakan-akan tidak mendukung adanya kegiatan ”berpura-pura” yang dianjurkan dalam ”The Secret”. Kata-kata ”sedang dalam proses...” akan melemahkan kegiatan untuk ”berpura-pura seakan-akan pelaku sudah mendapatkannya”.
Meskipun dalam tulisan sebelumnya saya mempunyai pendapat bahwa kedua ide tersebut secara prinsipal tidak bertentangan, saya akui pula bahwa argumen yang saya berikan masih cukup lemah untuk diperdebatkan kembali. Namun baru-baru ini saya akhirnya dapat menemukan sebuah pendapat yang lebih mampu untuk ”menjembatani” kedua ide yang tampaknya saling bertentangan tersebut.
Pendapat yang sungguh menarik ini diungkapkan oleh Adi W. Gunawan, The Re-Educator & Mind Navigator, dalam bukunya yang berjudul ”The Secret of Mindset”. Dalam buku tersebut diungkapkan cara mengubah belief lewat tindakan afirmasi dan visualisasi, yang akan berjalan dengan efektif apabila tindakan tersebut berhasil masuk ke dalam pikiran bawah sadar (subconscious mind) untuk kemudian diterima, dimengerti, dan terintegrasi.
Salah satu teknik yang dahsyat untuk bisa menjangkau pikiran bawah sadar tersebut adalah Synergetic Approach, yang terdiri dari 6 komponen yang saling terkait, yaitu: percaya (belief), penguatan (positive reinforcement), bahasa simbolik (symbolic language), ideomotor response, tiga puluh menit yang ajaib (the magic 30 minutes), dan precognitive dream.
Komponen pertama yaitu ”percaya”, yang menitikberatkan pada rasa percaya bahwa kita bisa berubah, menjadi landasan bagi bekerjanya komponen berikutnya. Pikiran bawah sadar bekerja berdasarkan program yang spesifik dan akan selalu mencapai setiap tujuan yang telah diprogramkan ke dalamnya.
Komponen kedua adalah penguatan atau positive reinforcement. Penguatan ini harus dilakukan tiap hari, idealnya 21 kali berturut-turut dalam kondisi hipnosis. Jadi apabila dalam kondisi hipnosis saja butuh 21 kali penguatan atau repetisi, apabila penguatan dilakukan dalam kondisi sadar bisa membutuhkan ratusan kali lamanya.
Komponen ketiga yaitu bahasa simbolik. Maksudnya adalah saat melakukan afirmasi / visualisasi, hendaknya kita mempunyai simbol yang mewakili hal yang kita pikirkan sehingga mampu dicerna dengan lebih mudah oleh pikiran bawah sadar.
Komponen keempat adalah ideomotor response, dan yang digunakan dalam teknik ini adalah tulisan tangan tegak bersambung, bukan diketik dengan komputer. Ini karena saat kita menulis, informasi yang kita tuliskan menembus filter pikiran sadar dan langsung masuk ke pikiran bawah sadar. Pikiran sadar kita mungkin menolak informasi yang kita masukkan ke pikiran bawah sadar, namun penolakan ini dapat kita atasi dengan menggunakan tulisan tangan. Suka atau tidak suka, begitu kita tulis, informasi itu akan langsung masuk ke pikiran bawah sadar.
Komponen yang kelima yaitu 30 menit yang ajaib atau "the magic of 30 minutes". Seperti yang telah dibahas dalam komponen kedua, sebuah kondisi yang paling kondusif untuk memasukkan sugesti atau afirmasi adalah dalam kondisi hipnosis. Bagaimana jika kita tidak mendalami hipnosis? Ada satu momen yang bisa kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk mencapai kondisi yang mirip dengan kondisi waktu hipnosis, yaitu waktu menjelang kita tidur. Tepatnya 30 menit sebelum kita tidur. Momen ini disebut ajaib karena merupakan celah sempit dalam koridor waktu sadar kita yang terjadi secara alamiah dan dapat dimanfaatkan untuk menembus pikiran bawah sadar dengan sangat mudah.
Komponen yang keenam yaitu precognitive dream, merupakan kelanjutan proses yang berkaitan erat dengan komponen kelima dimana terbentuk sebuah mimpi yang mampu diproses dan diintegrasikan ke dalam pikiran bawah sadar kita. Mimpi ini bisa dibentuk oleh informasi yang kita masukkan ke pikiran saat 30 menit yang ajaib. Syaratnya, kegiatan lain tidak boleh dilakukan setelah kita menuliskan afirmasi kita sebelum tidur.
Teknik Synergetic Approach ini dapat menjadi jawaban bagaimana cara kita menghindari kemungkinan adanya getaran buruk dari yang ditimbulkan oleh afirmasi yang kita lakukan, seperti yang dikuatirkan oleh Michael J. Losier. Jadi dengan adanya teknik ini tampaknya kita tidak perlu lagi memperlemah afirmasi yang kita lakukan dengan mengucapkan kalimat: ”Saya sedang dalam proses.....”, sehingga kita dapat leluasa melakukan afirmasi dengan berpura-pura seakan-akan pelaku sudah mendapatkannya tanpa harus mengkhawatirkan reaksi perlawanan dari pikiran bawah sadar.
Sebuah solusi cerdas yang diungkapkan kembali oleh seorang pakar hipnosis negeri kita sendiri!
Posted by Willy Wong at 2:42 AM 0 comments
